
渡辺裕之
a boy who lives with dolls
Watanabe Hiroyuki

Prepare to be astounded, prepare to be amazed, as Watanabe Hiroyuki brings life into this wooden boy!

The Doll Maker
Ini adalah kisah retak yang sudah terpetakan.
Tanda tanya melata tak bersuara, bersarang di dalam kepala, menerawang segala yang di tangkap mata. Fakta itu adalah kelabu yang membisu, kenyataan pun tersimpan rapat bersama elegi yang membiru.
Orang-orang mulai bermain di atas panggung sandiwara, melelapkan segala luka wiri wara. Sementara kebenaran adalah putih yang dihitamkan, dan catatan akhir kembali menjadi cerita yang disembunyikan.
Aku melarat urusan perasaan, sampai hati terjatuh ke dalam selokan, sebab kisah ini begitu menyengsarakan. Tenggelam dalam ketidakberdayaan, aku anak manusia yang miskin rasa dalam pelarian.
ㅡㅡㅡ
Namaku adalah Watanabe Hiroyuki, mereka memanggilku Hiro. Aku lahir di Osaka pada 10 Oktober tahun 2003. Aku menjadi yatim piatu di usia 4 tahun. Orang tuaku berprofesi sebagai seniman yang menjadi korban ledakan bom teroris di sebuah museum ternama pada tahun 2007.
Sungguh menyedihkan bukan? Yah memang begitu kenyataannya. Tapi aku mendapatkan orang tua baru yang bersedia mengadopsiku menjadi anak mereka. Mereka masih saudara dari ikatan keluarga Watanabe; adalah pasangan tua yang tak kunjung dikaruniai putra. Untungnya, harapan mereka belum lah sirna. Kedatanganku ke dalam keluarga kecil mereka, telah menyempurnakan segalanya.
Aku adalah seorang pemikir dan perasa, bahkan aku penasaran sudah berapa banyak pertanyaan yang membelukar di kepala.
Aku selalu bertanya kepada Tuhan, kenapa aku bisa ada di keluarga yang baik hati ini? kenapa aku hidup bersama keluarga ini? Mungkinkah ini semua adalah takdir yang disematkan kepada setiap persona?
Aku akan memulai kisah dari sebuah sensasi melankolis yang berbeda. Mungkin kisah ini akan sedikit unik hanya untuk sekadar disajikan, karena pengalaman ini tidak banyak dilalui oleh remaja petakilan seperti diriku ini.
Dimulai dari ketika aku pindah ke rumah orang tua baruku di Tokyo. Rumah besar bergaya bangunan Jepang lama. Lima puluh persen bangunan kapital itu terdiri dari kayu yang enggan melapuk. Mereka bilang, rumah ini sudah ditempati keluarga Watanabe puluhan tahun lamanya. Di sana terdapat banyak rak buku, dari sanalah hobi membacaku tumbuh.
Sampai pada akhirnya aku menemukan sesuatu di sana: Di loteng kamar tua yang sudah lama tak ditempati. Aku menemukan sebuah boneka kayu dengan selongsong besi pada bagian kaki dan tangan. Boneka itu terbalut sebuah selimut kotak-kotak, tersembunyi dalam sebuah tungku pirus di bawah tumpukan koper-koper usang.
Itulah boneka pertamaku, yang kemudian aku beri nama Shiro. Orang tuaku bilang boneka itu adalah jenis boneka ventriloquist. Ventriloquisme adalah seni berbicara tanpa menggerakkan bibir. Media yang digunakannya adalah boneka kayu, yang mampu digerakan mulut, tangan, badan dan kakinya. Bahan dasarnya adalah kayu dan kulit kidang, tidak akan rapuh puluhan tahun termakan usia.
Dari situ aku mulai mempelajari ventriloquism, walaupun pertunjukan ventriloquis seakan menjadi asing. Baru belakangan ini muncul kembali melalui ajang pencarian bakat di beberapa negara besar.
Tahu akan kegemaran, ayah mulai membantu mengasah bakatku dan mulai memperkenalkanku pada Bunraku.
Bunraku adalah sandiwara boneka tradisional Jepang yang merupakan salah satu jenis ningyo johruri. Bunraku hampir sama seperti ventriloquist, dan keduanya bagiku sudah seperti permainan untuk membuat benda mati menjadi hidup.
Boneka-boneka ituㅡ kala kugerakan dari kepala hingga kaki, rasanya seperti sedang memegang dua dunia sekaligus. Paradoks semu antara kehidupan dan kematian.
Aku tertawa ketika beberapa orang melabeli aku sebagai seorang anak dengan pola pikir aneh. Sejak aku mulai berlari mengejar lusinan kupu-kupu bersayap kuning, pikiranku masih belum terbuka sepenuhnya. Masih terkekang oleh stereotipe dan doktrin-doktrin yang masuk di lingkungan.
Aku mendapatkan perundungan di sekolah dasar karena hobiku itu. Oleh sebab itu aku harus menyembunyikan kegemaranku bermain dan mengutak-atik boneka di hadapan teman-teman lainnya.
Aku hanyalah anak laki-laki biasa yang berusaha untuk bisa diterima di mana pun aku berada. Aku benci sendirian, aku tidak suka ditingggalkan.
Kehidupanku tidak mudah untuk ditebak, bagaimana takdir berjalan dan mulai melancarkan aksinya. Seperti musim yang berlalu dalam satu kerlingan mata.
Sampai pada akhirnya aku mengawali jumpa dengan bocah pemurung di kelas empat. Aku tidak menyadari kehadirannya sejak kelas satu, oh.. atau mungkin aku terlalu sibuk dengan duniaku saat itu.
Namanya adalah Matsumoto Jun, bagiku ia bukan hanya sekadar bocah aneh yang memasang dinding hitam tak kasat di sekitarnya, bukan. Ia adalah sahabat pertamaku, yang tak sungkan lagi aku ikrarkan persahabatan kami di manapun kami berada.
Jun menyukai kaligrafi, ia anak yang berbakat. Sementara aku menyukai ventriloquism. Dua dunia yang berbeda meski dalam satu lingkup yang sama. Tapi, kami tidak keberatan menjalani perbedaan itu sepanjang masa sekolah.
Aku juga gemar membaca, karena aku senang berpetualang dengan imajinasi setiap kali rangkaian aksara itu masuk menyelinap ke dalam netra.
Yang kemudian aku gunakan hobi membaca hanya untuk memuaskan diri, mengobati imajinasi yang mulai runtuh akibat rutinitas penuh pemikirian berdasarkan logika. Fiksi kriminal seperti A dark adapted eye dan A Coffin for Dimitrios. Bagiku novel-novel tersebut lebih menarik, sayangnya orang-orang lebih menyukai fiksi romansa menggelikan yang banyak dijual dan laris dimana-mana.
Cinta? Tidak-tidak, aku tidak pernah bisa meyakini hal tersebut. Sebelum kehadiran Aoki Rin menyempurnakan segalanya. Aku dan Jun bertemu Rin saat SMP. Ia siswa pindahan yang cukup periang, namun sangat lembut dalam bertutur kata.
Persahabatan kami bertiga sejak saat itu terangkai sedemikian rupa. Aku si tukang cari perhatian, Jun si pendiam, dan Rinㅡ si periang yang mampu membuat siapa saja senang.
Itu hanya dalam pandanganku. Ternyata aku tidak menyadari luka yang tersemat dalam diri kedua sahabatku kala itu.
Mungkin aku yang terlalu apatis, atau aku yang sedikit egois hanya memikirkan duniaku sendiri?
Rin memiliki mimpi, walaupun pada akhirnya mimpi Rin hanyalah melihat mimpi kedua sahabatnya terwujud.
Kematian Rin mematahkan segalanya. Menghancurkan lukisan cerita yang telah kami torehkan dalam kanvas retak. Memutuskan benang yang telah kami pintal sedemikian rupa.
Tangkaiku patah oleh angin yang berembus dingin, bungaku rapuh dihantam gemuruh. Aku rasakan ketiadaan, kepergiannya mengantarkanku pada kekeringan.
Sesak.
Rasanya sesak.
Aku tidak bisa bernapas sama sekali.
Pada akhirnya semua habis termakan ego. Lemah segalanya digusur murka. Rasa frustrasi akan kehilangan itu membawaku tenggelam dalam tekad yang dipecut hingga buta.
Aku menyalahkan Jun atas kepergian Rin. Karena ia yang seharusnya memiliki tanggung jawab penuh atas segala yang telah terjadi. Aku sangat membenci Jun sejak saat itu. Kami bahkan tidak saling memberi ucapan dan sapaan di hari kelulusan SMP.
ㅡㅡㅡ
Awalnya aku tidak menaruh minat pada apapun selain mengurung diri di dalam bilik pribadi. Tempat di mana aku membuat boneka yang sedemikian rupa mirip dengan sosok Rin. Aku berusaha membawa Rin hidup dalam imajinasiku sendiri.
Sampai pada akhirnya, Ayah dan Ibu menyarankanku untuk masuk ke SMA Tenjin Kokusai. Aku ragu, aku takut tidak bisa mengatasi ketakutanku akan kehilangan orang-orang yang berharga lagi.
Namun, sekali lagi mereka menjelaskan.
"Ini SMA Tenjin Kokusai!"
Sekolah menengah yang sudah tidak diragukan lagi kualitasnya.
Hal klasik yang rasionalis, aku memutuskan untuk mengejar mimpi dan melupakan segala kenangan buruk bersama Rin dan Jun semasa dulu. Bagiku, tidak ada salahnya untuk mencobaㅡ membuka lembaran baruㅡ atau mungkin sebaiknya aku mengganti buku kisahku dengan sampul baru.
Mereka tidak mengerti bagaimana pikiranku bersatu padu pada banyak pertanyaan yang tidak pernah semesta temukan jawabannya. Adicita, makulat dan filsafat, hanya makmum dari ajaran penuh sekat. Ambisiku mencuat.
Sebagai seseorang yang memiliki tekad dan ambisi tentu saja aku menyanggupi diri untuk masuk ke sekolah bergengsi tersebut.
Boneka usangku mulai melapuk di lemari kayu. Dan salah satu bungaku layu, dahannya patah hingga mengabu.
Kebencianku terhadap Jun telah tumbuh jauh meresap ke dalam setiap sel darah dan menyalakan alarm dari setiap kehadirannya. Mata cokelat gelap itu seperti pemangsa yang sanggup menembus, membuat darahku mendidih dengan rasa panas dalam pembuluh. Ya, hanya dengan menatap sosok itu— kebencian itu mampu menyeruak dan tak sanggup untuk aku sembunyikan. Aku bersumpah untuk mengalahkannya dalam segala bidang.
Inilah kisahku, yang retak dan sedang aku petakan kembali. Di mana bahagia jua haru menyatu menjadi satu.
Personality & Trivia
Watanabe Hiroyuki merupakan seorang yang mudah bersosialisasi dengan baik bersama orang lain. Sosok ambisius dan pantang menyerah. Sebelum keinginannya tercapai, ia tidak akan pernah mau untuk berhenti.
Ia sangatlah naif dan selalu berkata bahwa segala sesuatu yang ia raih, bisa terjadi karena dukungan orang-orang yang ada di sekitarnya. Hiro mampu menjadikan hinaan sebagai motivasi untuk membuat dirinya berkembang.
Walaupun begitu, ia adalah anak yang egois, terkadang apatis dan juga keras kepala. Tak jarang sifatnya itu membawa dampak buruk kepadanya. Dia juga ceroboh dan gegabah, sulit untuk mengontrol emosinya sendiri. Menjadikan hal itu sebagai kebiasaan buruk yang dimiliki oleh Hiro. Ia bahkan tidak segan-segan menghajar siapapun yang mengganggu atau menghalangi tujuannya.
Sebenarnya, Hiro bukanlah anak yang pendendam. Namun, sejak kematian Aoki Rin, sahabat sekaligus cinta pertamanya, ia melampiaskan kemarahannya kepada Matsumoto Jun. Menurutnya, Jun lah yang menyebabkan Rin meninggal pada saat itu.
Hiro selalu memiliki tujuan, atas apa segala sesuatu yang selalu ia nobatkan sebagai pilihan. Salah satunya adalah menjalani kehidupan yang sensitif ini. Pikirannya selalu penuh dengan kegigihan yang keras kepala, dan juga semangat yang tak tertundukkan penuh dengan impian.

- Hiro menyukai dunia pertunjukan boneka, ia bahkan mempelajari Ventriloquism dan Bunraku.
- Ia menyukai dunia Ventriloquism sejak usia lima tahun, ketika menemukan boneka ventriloquist di loteng rumah barunya.
- Terobsesi dengan pertunjukan seni boneka, juga boneka-boneka yang mampu digerakan.
- Memiliki gangguan pernapasan yang disebut Hyperventilation, adalah rasa sesak secara tiba-tiba ketika dirinya kelelahan, merasa sangat sedih, terkejut (shock), dan ketakutan.
- Seorang penyayang binatang. Ia bahkan tidak takut ketika berhadapan dengan binatang buas sekali pun.
- Pernah bercita-cita untuk menjadi seorang puppet master.
- Ia ingin mengenalkan pada dunia bahwa dunia Ventriloquist dan seni budaya Bunraku belum punah.
- Selain itu, ia pandai melukis dan mahir dalam memainkan alat musik.
- Ia pemilih urusan makanan, jika tidak ada yang disukainya ia memilih untuk tidak makan.
- Hiro hanya mau meminum air putih (air mineral) dan susu.
- Hiro membenci cokelat dan permen. Makanan manis yang bisa ia makan hanyalah kue.
- Hobi lainnya yaitu membaca, kala senggang ia akan mencari-cari bacaan berbagai genre, kecuali cerita berbau romansa karena ia selalu merasa geli apabila membacanya.
- Ia pun pandai di semua bidang olahraga kecuali berenang.
